Dunia pengembangan perangkat lunak sedang diguncang kabar besar. Di acara StrictlyVC TechCrunch di San Francisco, Kamis malam waktu setempat, CEO Replit Amjad Masad buka suara mengenai masa depan perusahaannya. Di tengah rumor akuisisi Cursor oleh SpaceX milik Elon Musk senilai USD 60 miliar (sekitar Rp960 triliun), Masad justru memilih jalur yang berbeda.
Perjalanan Replit dalam 18 bulan terakhir memang luar biasa. Dari pendapatan hanya USD 2,8 juta (Rp44,8 miliar) sepanjang 2024, kini mereka melaju kencang menuju angka annual run rate sebesar USD 1 miliar atau setara Rp16 triliun. Pertumbuhan masif ini membuat banyak pihak bertanya-tanya: apakah Replit juga akan segera dijual?
Masad menjelaskan perbedaan fundamental antara Replit dan kompetitornya. Menurutnya, Cursor beroperasi dengan margin kotor negatif 23 persen. Kondisi ini membuat perusahaan kecil yang membangun di atas model AI dasar sulit bertahan mandiri jika terus membakar uang untuk pelatihan model.
"Bagi kami di Replit, kami menjalankan bisnis dengan lebih rasional. Kami sudah mencapai margin kotor positif selama lebih dari setahun," ujar Masad. Ia mengakui layanan Replit sedikit lebih mahal, namun menawarkan solusi end-to-end. Pengguna bisa mulai dari perintah teks (prompt) hingga aplikasi yang siap tayang dan bisa diskalakan secara otomatis.
Meskipun sering berdiskusi dengan mitra strategis mengenai potensi akuisisi, Masad bersikukuh ingin tetap independen. Ia mengenang masa-masa di Y Combinator tahun 2018 ketika mimpinya menciptakan satu miliar pembuat software ditertawakan orang. Kini, dengan teknologi agen AI yang mereka luncurkan September 2024, mimpi itu mulai menjadi kenyataan.
Sebagai platform yang bekerja sama dengan raksasa teknologi, Masad memberikan penilaian jujur mengenai performa model AI saat ini. Berikut adalah rangking menurut pengalamannya:
Replit telah berhasil menggaet klien besar seperti Meta dan Zillow. Menariknya, sebagian besar penjualan ini terjadi secara organik karena karyawan di perusahaan tersebut sudah menggunakan produk Replit terlebih dahulu. Saat masuk ke level manajemen (C-suite), faktor keamanan menjadi penentu kemenangan Replit.
"Banyak alat 'vibe-coding' hanya menghasilkan situs web dan menyambungkannya ke database eksternal. Itu membuat keamanan jadi sulit," kata Masad. Replit membedakan diri dengan menyediakan infrastruktur lengkap, mulai dari keamanan hingga migrasi database, yang terintegrasi langsung dalam platform.
Visi Replit untuk menciptakan "satu miliar pembuat software" sangat relevan bagi Indonesia. Di tengah dorongan ekonomi digital, hambatan teknis untuk membuat aplikasi kini semakin terkikis. Pengguna di Indonesia yang tidak memiliki latar belakang IT kini bisa membangun solusi digital sendiri hanya dengan modal ide dan pemahaman logika.
Selain itu, persaingan harga antara model AI seperti Google Flash yang disebut Masad sangat murah akan menguntungkan pengembang lokal. Biaya operasional untuk membangun aplikasi berbasis AI menjadi lebih terjangkau bagi startup maupun UMKM di tanah air. Dengan Replit yang tetap independen, pasar memiliki alternatif platform yang stabil dan tidak terikat pada kepentingan satu raksasa teknologi saja.