Pasukan militer Israel menahan dua aktivis internasional dari armada flotilla bantuan Gaza setelah melakukan pencegatan di perairan internasional dekat Yunani. Keduanya kini menghadapi proses interogasi di Ashqelon di tengah laporan mengenai perlakuan brutal selama masa penahanan tersebut.
Dua aktivis asing yang tergabung dalam armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza muncul di hadapan pengadilan Israel pada Minggu (14/4). Langkah hukum ini diambil setelah militer Israel mencegat kapal mereka yang berusaha menembus blokade laut di wilayah Palestina yang tengah dilanda konflik tersebut.
Kelompok hak asasi manusia Adalah, yang memberikan pembelaan hukum, mengonfirmasi bahwa para aktivis tersebut dibawa ke Israel untuk menjalani interogasi intensif. Tim pengacara dari lembaga tersebut dilaporkan telah melakukan pertemuan terbatas dengan para tahanan di Penjara Shikma yang berlokasi di Ashqelon.
Aktivis yang ditahan diidentifikasi sebagai Saif Abu Keshek, seorang warga negara Spanyol, dan Thiago Avilo yang berkebangsaan Brasil. Keduanya merupakan bagian dari rombongan besar yang terdiri dari lebih dari 50 kapal yang berlayar dari berbagai pelabuhan di Prancis, Spanyol, dan Italia.
Miriam Azem, koordinator advokasi internasional di Adalah, menyatakan bahwa otoritas terkait telah mengajukan permohonan untuk memperpanjang masa penahanan mereka. "Negara meminta untuk memperpanjang penahanan mereka selama empat hari," ujar Azem kepada wartawan saat memberikan keterangan terkait proses persidangan di Ashqelon.
Berikut adalah rincian operasional armada flotilla yang dicegat oleh otoritas Israel:
Armada flotilla ini memulai pelayaran dengan tujuan utama memberikan bantuan logistik dan medis ke wilayah Gaza yang hancur akibat perang. Mereka membawa pasokan penting bagi warga sipil Palestina sebagai bentuk protes terhadap blokade berkepanjangan yang diterapkan oleh Israel di wilayah pesisir tersebut.
Pihak militer Israel mengklaim telah mengevakuasi sekitar 175 aktivis dari kapal-kapal tersebut pada Kamis dini hari pekan lalu. Meskipun sebagian besar aktivis dilepaskan atau dideportasi, Abu Keshek dan Avilo dipilih untuk dibawa langsung ke wilayah Israel guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak keamanan.
Isu pencegatan armada bantuan ke Gaza selalu mendapat perhatian besar di Indonesia, mengingat sejarah keterlibatan relawan lokal dalam misi serupa di masa lalu. Kasus ini menjadi pengingat risiko tinggi yang dihadapi oleh aktivis kemanusiaan saat mencoba menembus jalur laut internasional yang dijaga ketat oleh angkatan laut Israel.
Bagi komunitas internasional dan organisasi non-pemerintah di Jakarta, penahanan aktivis Spanyol dan Brasil ini mempertegas tantangan distribusi bantuan fisik ke Gaza. Saat ini, jalur darat melalui gerbang Rafah atau Kerem Shalom tetap menjadi opsi utama yang sangat terbatas, sementara jalur laut masih dianggap sebagai zona berisiko tinggi bagi misi non-pemerintah.
Hingga saat ini, belum ada informasi mengenai jadwal persidangan lanjutan bagi kedua aktivis tersebut. Fokus utama tim hukum Adalah saat ini adalah memastikan keselamatan fisik para tahanan menyusul adanya laporan mengenai perlakuan kasar selama proses penangkapan di laut lepas.