JAPNAS Aceh Bidik Rantai Pasok Nasional Dukung Program Makan Gratis

Penulis: Khairul Basri  •  Minggu, 03 Mei 2026 | 18:20:06 WIB
Pengurus JAPNAS Aceh menggelar Rakorwil I untuk konsolidasi pengusaha daerah di Banda Aceh.

BANDA ACEH — Pengurus Wilayah Jaringan Pengusaha Nasional (PW JAPNAS) Aceh menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) I di Muaraya Hotel Aceh, Sabtu (2/5/2026). Forum ini menjadi momentum krusial bagi pengusaha daerah untuk mengonsolidasikan kekuatan dan memperluas kontribusi dalam peta ekonomi nasional.

Mengusung tema “Sinergi dan Kolaborasi dalam Membangun Aceh Menuju Indonesia Emas”, pertemuan ini mempertemukan pelaku usaha lintas sektor. Fokus utamanya adalah menyelaraskan strategi bisnis lokal dengan agenda pembangunan pemerintah pusat, khususnya terkait penguatan ketahanan pangan dan distribusi logistik.

Integrasi Pengusaha Aceh dalam Rantai Pasok Badan Gizi Nasional

Ketua Harian PP JAPNAS, Widiyanto Saputro, menegaskan bahwa kekuatan kolektif menjadi kunci utama menghadapi tantangan ekonomi. Ia mendorong anggota JAPNAS di Aceh untuk tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menangkap peluang pasar yang semakin kompetitif.

“Sinergi usaha antaranggota JAPNAS harus terus diperkuat. Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Dengan kolaborasi, kita mampu menciptakan kekuatan ekonomi yang solid dan berdaya saing tinggi,” ujar Widiyanto.

Widiyanto menyoroti peluang besar dalam program Badan Gizi Nasional (BGN) dan penguatan koperasi desa Merah Putih. Menurutnya, anggota JAPNAS Aceh dapat masuk ke dalam rantai pasok (supply chain) sesuai spesialisasi usaha masing-masing, mulai dari sektor peternakan hingga hortikultura.

“Semua ini bisa diintegrasikan dalam satu rantai pasok yang kuat, sehingga mampu menjamin ketersediaan bahan baku, termasuk untuk mendukung operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG),” jelasnya.

Optimalisasi Energi dan Posisi Strategis Sabang di Jalur Global

Ketua Umum PW JAPNAS Aceh, Hasbul Fayadi, menilai Aceh memiliki modal besar berupa kekayaan energi dan sumber daya alam (SDA). Namun, potensi tersebut membutuhkan manajemen kolaboratif agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan daerah.

“Aceh dianugerahi kekayaan sumber daya alam dan potensi energi yang besar. Ini harus kita maksimalkan melalui sinergi pengusaha dan dukungan terhadap kebijakan pemerintah,” kata Hasbul.

Selain SDA, Hasbul menekankan pentingnya memanfaatkan letak geografis Aceh yang strategis. Kawasan Sabang yang berada di pintu masuk jalur perdagangan internasional menuju Asia Timur harus menjadi batu loncatan bagi pengusaha lokal untuk menembus pasar global.

“Ini adalah peluang besar bagi pengusaha Aceh untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing di level nasional maupun global,” tambahnya.

Kemitraan Strategis Atasi Kendala Modal dan SDM Lokal

Meski memiliki potensi besar, tantangan kapasitas modal dan kualitas sumber daya manusia (SDM) masih membayangi sebagian pelaku usaha di Aceh. Ketua Harian JAPNAS Aceh, Mahfudz Y Loethan, menekankan perlunya skema kemitraan strategis sebagai solusi praktis.

Mahfudz mendorong adanya backup kolektif bagi pelaku usaha yang masih lemah secara finansial maupun teknologi. Kemitraan dengan pengusaha di level nasional dipandang sebagai jalan pintas untuk meningkatkan standar operasional pengusaha lokal Aceh.

“Pengusaha Aceh tidak boleh berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan besar, terutama di sektor-sektor padat modal dan berbasis teknologi. Yang masih lemah dari sisi modal dan SDM harus kita backup bersama melalui kemitraan strategis dengan pengusaha nasional,” tegas Mahfudz.

Rakorwil I ini ditargetkan mampu melahirkan kesepakatan konkret yang dapat segera diimplementasikan. JAPNAS Aceh berkomitmen membangun ekosistem usaha yang terintegrasi untuk memastikan seluruh potensi daerah benar-benar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Reporter: Khairul Basri
Back to top