Yiddish Glory Restorasi Lagu Antifasis Perang Dunia II di Shanghai

Penulis: Nazaruddin Wahid  •  Senin, 04 Mei 2026 | 15:02:01 WIB

Proyek musik Yiddish Glory akan mementaskan lagu-lagu antifasis langka dari era Perang Dunia II dalam rangkaian tur Asia di Shanghai bulan ini. Pertunjukan kolaboratif ini menghidupkan kembali arsip musik Ukraina yang sempat hilang sekaligus memperingati sejarah Shanghai sebagai suaka bagi 18.000 pengungsi Yahudi dari kejaran Nazi.

Proyek musik Yiddish Glory resmi memulai debut Asia mereka dengan membawa koleksi lagu-lagu perlawanan dari era Holocaust ke panggung Shanghai, Hong Kong, dan Korea Selatan. Inisiatif ini merupakan hasil riset mendalam akademisi University of Toronto, Anna Shternshis, bersama musisi sekaligus penulis lagu Psoy Korolenko. Mereka mengombinasikan pertunjukan musik langsung dengan narasi sejarah untuk memberikan konteks pada karya yang sempat terkubur puluhan tahun.

Langkah ini menandai momen langka bagi lanskap budaya di Tiongkok daratan. Produser Daniel Rosenberg mencatat bahwa konser ini merupakan pertunjukan berbahasa Yiddish ketiga yang pernah digelar di wilayah tersebut dalam 60 tahun terakhir. Pemilihan Shanghai sebagai lokasi utama memiliki alasan historis kuat mengingat kota ini pernah menjadi rumah bagi ribuan pengungsi Yahudi selama periode perang.

Restorasi Arsip dari Etnolog Soviet

Materi yang dibawakan dalam konser ini bersumber dari kerja keras Moisei Beregovsky, seorang etnolog Uni Soviet yang mengumpulkan ribuan lagu di ghetto dan kamp konsentrasi pada medio 1930-an hingga 1940-an. Koleksi ini sempat disita oleh otoritas Soviet dan dianggap hilang sebelum akhirnya ditemukan kembali di perpustakaan nasional Ukraina pada akhir 1990-an. Shternshis kemudian melakukan digitalisasi dan restorasi lirik untuk menghidupkan kembali suara-suara korban perang tersebut.

Hingga saat ini, proyek Yiddish Glory telah menghasilkan dua album fisik dan digital yang mendapat apresiasi kritis global. Album pertama mereka, Yiddish Glory: The Lost Songs of World War II (2016), berhasil menembus nominasi Grammy Awards. Tahun ini, mereka merilis sekuel bertajuk The Silenced Songs of WWII yang memperluas repertoar musik perlawanan terhadap fasisme.

Signifikansi Sejarah Shanghai sebagai Suaka

Kehadiran Yiddish Glory di Shanghai menghidupkan kembali memori kolektif tentang peran kota ini di masa lalu. Sekitar 18.000 warga Yahudi selamat dari pemusnahan massal di Eropa karena Shanghai menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia yang tidak memerlukan visa masuk saat itu. Hubungan emosional ini menjadikan setiap bait lagu yang dibawakan terasa lebih personal bagi audiens lokal maupun komunitas internasional di sana.

"Sejarah Shanghai memberikan signifikansi ekstra bagi pemilihan tempat pertunjukan ini," ujar Anna Shternshis. Melalui musik, tim peneliti ingin menunjukkan bahwa seni tetap bisa tumbuh di tengah penindasan sistematis. Proyek ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah bentuk konservasi data sejarah yang dipresentasikan melalui medium audio-visual kontemporer.

Pentingnya Digitalisasi Warisan Budaya

Upaya restorasi yang dilakukan tim Shternshis menjadi contoh nyata bagaimana teknologi pengarsipan dan riset akademik dapat menyelamatkan aset budaya yang hampir punah. Bagi publik di Indonesia, inisiatif ini memberikan perspektif mengenai pentingnya preservasi digital terhadap lagu-lagu daerah atau dokumen sejarah nasional. Penggunaan platform streaming dan album digital terbukti ampuh memperpanjang usia narasi sejarah agar bisa diakses oleh generasi muda.

Karya-karya dalam proyek ini membuktikan bahwa arsip yang membeku di perpustakaan dapat bertransformasi menjadi produk kreatif yang relevan dengan isu kemanusiaan saat ini. Setelah menyelesaikan rangkaian di Shanghai, tim Yiddish Glory dijadwalkan melanjutkan misi edukasi budaya ini ke pusat-pusat seni di Seoul dan Hong Kong.

Keberhasilan proyek ini dalam meraih nominasi Grammy juga menunjukkan bahwa konten berbasis arsip sejarah memiliki nilai komersial dan artistik yang tinggi di pasar global. Konser di Shanghai menjadi bukti bahwa batasan bahasa dan waktu dapat dijembatani melalui kurasi materi yang akurat serta penyampaian yang modern.

Reporter: Nazaruddin Wahid
Back to top