Ilmuwan China Rancang Sistem Energi MARS-MES Guna Dukung Koloni di Mars

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Selasa, 05 Mei 2026 | 15:34:01 WIB
Ilmuwan China memperkenalkan MARS-MES, sistem energi inovatif untuk mendukung koloni di Mars.

Tim ilmuwan asal China memperkenalkan MARS-MES, sebuah sistem energi inovatif yang memanfaatkan karbondioksida untuk mendukung keberlangsungan koloni manusia di planet Mars. Teknologi ini dirancang untuk mengatasi keterbatasan logistik energi nuklir konvensional yang sulit diperbarui dalam misi luar angkasa jangka panjang. Langkah ambisius tersebut mempertegas posisi Beijing sebagai pesaing tangguh NASA dalam perlombaan kolonisasi Planet Merah.

Membangun koloni manusia di Mars bukan sekadar urusan mendaratkan pesawat luar angkasa. Tantangan sesungguhnya muncul saat astronaut harus bertahan hidup di lingkungan ekstrem dengan atmosfer beracun dan radiasi kosmik yang mematikan. Tanpa pasokan listrik yang stabil, ambisi untuk menanam pangan atau memproduksi oksigen di sana mustahil terwujud.

Memanfaatkan Karbondioksida sebagai Sumber Daya Utama

Sistem bernama MARS-MES ini bekerja dengan cara yang cerdik. Para peneliti memanfaatkan komposisi atmosfer Mars yang 96 persen terdiri dari karbondioksida (CO2). Mengingat tekanan atmosfer di planet tersebut sangat rendah, energi yang dibutuhkan untuk mengompresi CO2 menjadi jauh lebih kecil dibandingkan di Bumi.

Dalam skemanya, energi awal tetap bersumber dari reaktor nuklir kecil. Namun, efisiensi sistem ini memungkinkan panas sisa dari reaktor digunakan kembali untuk memicu reaksi kimia. Proses tersebut mampu memecah molekul CO2 menjadi oksigen serta memproduksi metana melalui pencampuran hidrogen, yang nantinya bisa digunakan sebagai bahan bakar roket untuk perjalanan pulang.

Solusi atas Kendala Logistik Reaktor Nuklir

Selama ini, fisi nuklir dianggap sebagai kandidat terkuat untuk sumber energi di luar angkasa karena tidak bergantung pada sinar matahari. Masalahnya, sel bahan bakar nuklir konvensional memiliki masa pakai terbatas, biasanya sekitar 10 tahun jika dipacu pada performa maksimal. Di Bulan, penggantian suku cadang mungkin mudah karena perjalanan hanya memakan waktu beberapa hari.

Kondisi ini berbeda total dengan Mars. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sembilan bulan, dengan jendela peluncuran yang hanya terbuka setiap 26 bulan sekali. Logistik untuk pemeliharaan reaktor nuklir murni menjadi sangat tidak layak secara teknis maupun ekonomi.

MARS-MES hadir untuk mendiversifikasi beban kerja reaktor tersebut. Dengan menggunakan energi nuklir hanya sebagai pemantik untuk mengolah CO2 atmosferik, ketergantungan pada bahan bakar fisi murni dapat dikurangi secara drastis. Strategi ini diproyeksikan mampu memperpanjang usia operasional sistem energi hingga berkali-kali lipat lebih lama.

Lari Kencang China Menuju Mars

Meski para ilmuwan mengakui teknologi ini masih membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa diimplementasikan sepenuhnya, langkah China menunjukkan visi jangka panjang yang sangat terukur. Saat ini, China sudah memiliki stasiun luar angkasa Tiangong yang beroperasi penuh sebagai laboratorium pengujian teknologi luar angkasa mereka.

Target terdekat Beijing adalah misi Tianwen-3 yang dijadwalkan meluncur pada 2028. Misi ini bertujuan mengambil sampel permukaan Mars dan membawanya kembali ke Bumi pada 2031. Jika berhasil, China akan mencatatkan sejarah sebagai negara pertama yang melakukan pengembalian sampel dari Mars, mendahului target serupa yang direncanakan oleh NASA dan ESA.

Dominasi China di sektor luar angkasa kini bukan lagi sekadar narasi pengejaran ketertinggalan. Dengan pengembangan sistem seperti MARS-MES, mereka sedang membangun infrastruktur dasar yang diperlukan untuk menetap secara permanen di Mars, sebuah langkah strategis yang memaksa Barat untuk menghitung ulang peta persaingan antariksa global.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Back to top