Pertamina Siaga Dampak Geopolitik, Harga Perabot di Jatinegara Naik 20 Persen

Penulis: Teuku Fahreza  •  Selasa, 05 Mei 2026 | 17:26:01 WIB
Pedagang di Pasar Jatinegara menghadapi kenaikan harga peralatan rumah tangga hingga 20 persen.

PT Pertamina (Persero) terus mewaspadai fluktuasi harga energi global akibat eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang mulai memicu kenaikan harga barang konsumsi hingga 20 persen pada Selasa (5/5/2026). Lonjakan harga pada peralatan rumah tangga ini menjadi sinyal awal transmisi pembengkakan biaya logistik dan bahan baku manufaktur ke level konsumen. Kondisi tersebut kini mulai menekan daya beli masyarakat di pusat perbelanjaan tradisional seperti Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak lagi sekadar menjadi isu di layar televisi, melainkan sudah merembet ke rak-rak pedagang pasar. Di Pasar Jatinegara, para pedagang mulai mengeluhkan kenaikan harga modal untuk barang-barang kebutuhan dasar rumah tangga. Mulai dari kain pel, piring melamin, hingga peralatan makan berbahan baja tahan karat (stainless steel) mengalami koreksi harga yang cukup signifikan dalam waktu singkat.

Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan rantai pasok global dan potensi lonjakan harga minyak mentah. Sebagai BUMN energi, Pertamina berada di garda terdepan dalam menjaga stabilitas harga BBM, namun dampak tidak langsung pada sektor industri manufaktur dan distribusi barang sulit dihindari. Biaya produksi plastik, melamin, dan pengolahan logam sangat bergantung pada stabilitas harga energi dan kurs rupiah yang saat ini ikut tertekan.

Lonjakan Harga di Pasar Tradisional

Saidin, salah satu pedagang peralatan rumah tangga di kawasan Jatinegara, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir merata pada semua jenis produk. Barang-barang berbahan dasar kain dan plastik menjadi yang paling awal terdampak. "Kain pel yang awalnya dijual dengan harga Rp20 ribu kini naik menjadi Rp25 ribu," ujar Saidin saat ditemui di lokasi penjualannya.

Peralatan makan tidak luput dari tren kenaikan ini. Produk berbahan melamin yang banyak digunakan rumah tangga dan pelaku usaha kuliner mengalami kenaikan harga grosir yang cukup terasa. Saidin merinci bahwa piring melamin kini dibanderol lebih mahal Rp6.000 per lusin dibandingkan harga sebelumnya.

"Piring dengan bahan melamin juga naik Rp6 ribu/lusin atau naik dari Rp66 ribu jadi Rp72 ribu/lusin," tambahnya. Kenaikan serupa terpantau pada gayung plastik. Jika sebelumnya konsumen bisa mendapatkan dua buah gayung seharga Rp10.000, kini mereka harus merogoh kocek hingga Rp15.000 untuk jumlah yang sama.

Transmisi Biaya Manufaktur dan Logistik

Selain plastik dan melamin, komoditas berbahan logam seperti aluminium dan stainless steel ikut bergerak naik. Industri manufaktur logam memerlukan energi besar dalam proses produksinya, sehingga sensitif terhadap isu krisis energi global. Hal ini terkonfirmasi dari pengakuan pedagang lain di lokasi yang sama mengenai stok alat makan mereka.

"Sendok aluminum juga naik dari Rp66 ribu jadi Rp72 ribu/lusin," kata seorang pedagang lainnya. Kenaikan yang mencapai kisaran 10 hingga 20 persen ini dianggap tidak wajar untuk periode waktu yang singkat, mengingat tidak ada momentum hari raya atau lonjakan permintaan domestik yang luar biasa.

Situasi ini menciptakan dilema bagi para peritel kecil. Di satu sisi, modal yang harus dikeluarkan untuk menyetok barang meningkat tajam. Di sisi lain, daya beli konsumen belum sepenuhnya pulih. Para pedagang kini terpaksa memangkas margin keuntungan demi menjaga volume penjualan agar tidak anjlok terlalu dalam.

Tekanan pada Margin Keuntungan Pedagang

Kenaikan harga perabot ini membuat keuntungan para pedagang semakin tipis. Mereka memilih untuk tidak menaikkan harga jual terlalu jauh dari harga modal agar tidak membebani pelanggan tetap mereka. Strategi ini diambil untuk memastikan perputaran barang tetap berjalan meskipun profitabilitas menurun drastis.

Fenomena di Pasar Jatinegara ini mencerminkan bagaimana ketidakpastian global langsung berdampak pada ekonomi mikro di Indonesia. Jika tensi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus memanas, tekanan pada sektor logistik dan manufaktur diprediksi akan semakin berat. Pemerintah dan BUMN terkait kini memikul beban berat untuk menjaga agar efek domino ini tidak memicu inflasi yang lebih luas di masyarakat.

Hingga saat ini, pelaku usaha retail berharap ada intervensi atau kebijakan stabilitas yang mampu meredam gejolak harga di tingkat produsen. Tanpa adanya kepastian harga energi dan kelancaran distribusi, harga-harga kebutuhan sekunder masyarakat dipastikan akan terus merangkak naik dalam beberapa pekan ke depan.

Reporter: Teuku Fahreza
Back to top