BANDA ACEH — Puluhan mahasiswa asal Aceh Singkil yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pelajar Aceh Singkil (HIMAPAS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Aula Bakesbangpol Aceh, Jumat (16/5/2026). Diskusi bertema "Menggali Potensi Sumber Daya Alam untuk Aceh Singkil yang Berkelanjutan" ini menghadirkan akademisi, perwakilan perusahaan daerah, dan aktivis mahasiswa.
Aceh Singkil disebut memiliki kekayaan alam melimpah, mulai dari hasil bumi seperti emas, batu bara, karbon, dan gas alam, hingga perkebunan sawit, hutan wisata, serta laut yang kaya akan ikan ekspor. Namun, potensi ini dinilai belum dikelola secara optimal untuk kesejahteraan warga setempat.
Ketua Panitia FGD, Mullyadi Manik, menegaskan bahwa mahasiswa dan pemuda harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton. "Dari FGD ini kita akan mulai bergerak dan bersama tumbuh bagaimana kita jangan jadi penonton, namun harus menjadi pelaku supaya hasil alam kita bisa dinikmati oleh orang-orang pribumi bukan oligarki dan orang luar dari masyarakat Aceh Singkil," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Ia menambahkan, diskusi ini menjadi ajang membangun kesadaran bagi mahasiswa asal Aceh Singkil yang berkuliah di Banda Aceh. "Mari bersama membangun kerja sama untuk daerah Aceh Singkil yang lebih baik, maju, dan berkelanjutan," tutup Mullyadi.
Dr. Muhajir Al-fairusy, M.A, yang menjadi pemateri dalam FGD tersebut, menekankan pentingnya penataan sumber daya manusia. "Aceh Singkil punya potensi alam, laut, hasil bumi dan banyak potensi lainnya. Tinggal bagaimana lagi kita menata sumber daya manusia dan mengoptimalkannya. Kita perlu mendorong perhatian pemerintah daerah dalam mewujudkan asa cita kaum muda," katanya.
Sementara itu, Baihaqi, S.Si, menjelaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus dimulai dari pengenalan dan manajemen diri. "Memenejemen Sumber Daya Alam Aceh Singkil harus mengenali dan memenej diri kita sendiri setelah itu kita baru bisa mengelola SDA kita. Singkil itu butuh orang-orang yang berintegritas dan mempunyai komitmen," paparnya.
Faysal Ismail, perwakilan PT PEMA Aceh yang duduk di jajaran direksi komersil, menyatakan pihaknya berkomitmen membantu kemajuan daerah. "Kami perbuat untuk kemajuan daerah apalagi kami dari perusahaan daerah yang notabennya adalah bagaimana bisa meningkatkan pendapatan daerah," ucapnya.
Kehadiran PT PEMA sebagai BUMD Aceh diharapkan bisa menjadi jembatan antara potensi sumber daya alam yang melimpah dengan kebutuhan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Singkil. Forum ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk terus mengawal kebijakan pengelolaan SDA di kampung halaman mereka.