Selama sebulan menggunakan Motorola kelas menengah, seorang jurnalis dari media teknologi internasional mengalami gangguan koneksi Bluetooth yang membuat frustrasi. Musik dari Nothing Ear (a) yang baru saja dipakainya tiba-tiba terputus, lalu menyambung kembali dengan suara tidak sinkron dan beberapa detik hilang dari lagu.
Awalnya, ia mengira masalah ini wajar terjadi pada ponsel yang lebih terjangkau. Tapi pengamatan lebih lanjut mengungkap fakta lain: setiap kali ia meraih ponsel dari meja dengan posisi telapak tangan menutupi kamera depan, gangguan itu muncul konsisten tiga kali berturut-turut.
Bluetooth dirancang untuk konsumsi daya rendah dan jarak pendek, tapi konsekuensinya sinyal ini paling rapuh dibandingkan Wi-Fi atau 5G. Material seperti beton, plester, dan logam sangat efektif memblokir transmisi data nirkabel. Bahkan jaket berbahan poliester dan elastane yang disebut "Bluetooth Killer Jacket" oleh jurnalis tersebut cukup untuk memutus koneksi saat ponsel disimpan di saku dada.
Produsen ponsel pun sadar akan kelemahan ini. Casing titanium pada ponsel premium selalu memiliki celah dari material berbeda untuk jalur antena. Tanpa celah itu, sinyal Bluetooth tidak akan bisa menembus rangka logam.
Berdasarkan pengalaman dan pengujian yang dilakukan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba pengguna di Indonesia untuk memperbaiki koneksi Bluetooth yang sering terputus:
Temuan ini memberikan perspektif baru bagi pengguna ponsel murah yang selama ini menganggap gangguan Bluetooth sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan. Sebelum memutuskan mengganti perangkat, mencoba mengubah kebiasaan kecil dalam memegang atau menyimpan ponsel bisa menjadi solusi yang tidak memakan biaya sepeser pun.
Untuk pengguna Google Pixel 9 Pro dan Pixel 8 Pro yang juga dilaporkan mengalami masalah serupa, langkah-langkah di atas layak dicoba sebelum menyalahkan perangkat lunak sepenuhnya.