BANDA ACEH — Kabar duka kepergian Dr. Zaini Abdullah disampaikan oleh kerabat dekat, Munawar Liza Zainal, Sabtu siang. Almarhum meninggal dunia di rumah sakit setelah menjalani perawatan. Jenazah terlebih dahulu dimandikan di RSUD Zainoel Abidin sebelum dibawa ke kediamannya di kawasan Geuceu, Banda Aceh.
Rangkaian pemakaman telah disusun. Jenazah akan dibawa ke Masjid Raya Baiturrahman untuk disalatkan setelah salat Ashar. Selanjutnya, almarhum akan dimakamkan di Teureubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, tempat peristirahatan terakhir di kampung halamannya.
Dr. Zaini Abdullah dikenal luas sebagai tokoh kunci dalam sejarah Aceh. Ia tercatat sebagai salah satu pendiri sekaligus pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namanya melambung sebagai perwakilan utama dalam perundingan damai Helsinki tahun 2005, yang mengakhiri konflik berkepanjangan di Tanah Rencong.
Latar belakang pendidikannya sebagai dokter juga melekat kuat dalam perjalanan hidupnya. Meski sibuk dalam perjuangan politik, ia kerap mengabdikan keahlian medisnya di tengah masyarakat.
Selama memimpin Pemerintah Aceh, almarhum dikenal gigih dalam melaksanakan kesepakatan damai. Ia juga memperkuat penerapan Syariat Islam serta mendorong pembangunan kembali berbagai sektor pasca-konflik dan bencana alam. Nama beliau tercatat sebagai tokoh yang menjembatani transisi dari masa perjuangan bersenjata menuju pembangunan damai di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berita kepergiannya segera menyebar luas di masyarakat. Kerabat dan tokoh masyarakat memohon doa bersama, semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah, mengampuni segala kesalahan, melapangkan kuburnya, serta mengangkat derajatnya setinggi-tingginya bersama para orang saleh, wali, dan syuhada.
Ungkapan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun turut membanjiri saluran komunikasi warga sebagai bentuk belasungkawa atas kepergian tokoh yang berjasa besar bagi sejarah Aceh.