ACEH — Fenomena yang dikenal sebagai "pengangkatan pantai" atau coastal uplift ini pertama kali dilaporkan oleh warga dua hari pascagempa. Data terbaru dari badan penanggulangan bencana Filipina mencatat gempa tersebut telah menewaskan sedikitnya 61 orang, sementara 40 lainnya masih dinyatakan hilang.
Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (PHIVOLCS) menjelaskan bahwa pergeseran signifikan di Palung Cotabato menjadi penyebab utama. Palung ini terletak sekitar 50 kilometer di lepas pantai selatan Pulau Mindanao, sebuah kawasan yang memang rawan aktivitas seismik. Pada Januari lalu saja, ribuan gempa kecil tercatat di zona tersebut.
"Pengukuran menunjukkan perkiraan kenaikan ketinggian sekitar 2 meter," demikian pernyataan resmi PHIVOLCS. Tim survei yang diterjunkan ke lokasi menemukan bahwa sebagian garis pantai, bersama dengan ekosistem terumbu karang dan lamun, kini sepenuhnya terbuka di atas permukaan air.
Departemen Lingkungan Hidup Filipina (DENR) merilis gambar yang memperlihatkan hamparan terumbu karang luas yang mengering. Ikan mati dan berbagai biota laut berserakan di permukaan karang yang sebelumnya terendam. Padang lamun yang juga terpapar langsung mengalami kondisi serupa.
Menurut laporan DENR, kematian massal ini tidak berhenti pada terumbu dan lamun. Spesies yang bergantung pada kedua ekosistem tersebut—seperti ikan karang, belut, kerang, dan moluska lainnya—mengalami penurunan jumlah drastis. Seorang pejabat DENR mengakui bahwa saat ini belum mungkin menentukan luas pasti area terdampak karena wilayah yang harus disurvei sangat luas.
Fenomena pengangkatan pantai ini menjadi perhatian serius para ahli kelautan. Terumbu karang yang tumbuh selama puluhan hingga ratusan tahun musnah dalam hitungan hari. Padang lamun, yang berfungsi sebagai tempat pemijahan dan daerah asuhan bagi banyak biota laut, juga hancur. Pemulihan ekosistem pesisir di kawasan ini diperkirakan membutuhkan waktu sangat lama, bahkan bisa puluhan tahun, dan memerlukan intervensi restorasi yang masif.
Bencana ini menambah daftar panjang kerusakan ekologis yang dipicu oleh gempa bumi di kawasan Cincin Api Pasifik, di mana Filipina menjadi salah satu negara yang paling sering mengalami dampak langsung dari aktivitas tektonik bawah laut.