ACEH — Sejak akhir zaman Pleistosen, runtuhan pasir menutup pintu masuk ruang tersebut. Kondisi itu membuat isinya relatif terlindungi dari perubahan lingkungan dan kontaminasi modern.
Di permukaan lantai ruang, peneliti menjumpai tulang lynx, hyena tutul, dan burung nasar griffon. Ada pula cangkang whelk, siput laut yang dapat dimakan, dengan posisi cukup jauh dari garis pantai pada masa itu.
Jarak tersebut membuat peneliti menduga cangkang itu dibawa masuk oleh manusia, bukan terbawa arus atau proses alami. Temuan paling signifikan adalah peralatan batu dengan teknologi Mousterian, tradisi pembuatan alat yang identik dengan populasi Neanderthal.
Benda-benda itu tergeletak di permukaan lantai dan belum terkubur lapisan sedimen lebih dalam. Kondisi ini membuat ruang tersebut berfungsi seperti kapsul waktu arkeologi.
Gibraltar sudah lama menjadi pusat penelitian Neanderthal. Kompleks Gorham's Cave menyimpan bukti aktivitas manusia selama sekitar 120 ribu tahun dan kini berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO.
Sumber resmi Gibraltar menyebut Neanderthal bertahan di kawasan ini hingga sekitar 32 ribu tahun lalu. Angka itu berbeda dari penempatan umum kepunahan Neanderthal yang sering disebut sekitar 40 ribu tahun lalu.
Selisih waktu tersebut menempatkan Gibraltar sebagai salah satu wilayah perlindungan terakhir bagi kelompok Neanderthal, ketika populasi mereka di banyak bagian Eropa sudah menghilang.
Bukti dari kompleks gua menunjukkan Neanderthal di Gibraltar tidak sekadar berburu hewan. Peneliti menemukan banyak cangkang kerang, tulang ikan, serta sisa anjing laut dan lumba-lumba, sebagian dengan tanda pemrosesan menggunakan alat.
Mereka juga membuat peralatan batu dan memanfaatkan sumber daya pesisir. Di Vanguard Cave, riset sebelumnya menemukan bukti pembuatan tar dari kayu birch, bahan perekat untuk memasang gagang pada peralatan atau senjata.
Proses pembuatan tar itu membutuhkan panas terkontrol dalam waktu tertentu. Ada pula gigi susu anak yang ditemukan dekat pintu masuk gua, dalam lapisan yang berkaitan dengan aktivitas Neanderthal.
Temuan gigi tersebut mengindikasikan gua bukan hanya tempat singgah kelompok pemburu, melainkan juga dipakai untuk aktivitas harian dan kemungkinan oleh kelompok keluarga.
Karena tertutup selama ribuan tahun, sedimen di ruang tersebut relatif terlindungi dari perubahan lingkungan dan kontaminasi modern. Kondisi ini bernilai tinggi untuk penelitian DNA purba.
Peneliti berencana mengambil sampel sedimen lantai gua untuk mencari jejak DNA yang mungkin ditinggalkan manusia maupun organisme lain. Mereka juga akan menganalisis serbuk sari dan sisa tumbuhan mikroskopis.
Analisis itu bertujuan mengetahui seperti apa lingkungan sekitar gua ketika Neanderthal masih menghuninya. DNA lingkungan berpotensi mengungkap organisme apa yang pernah hidup di sana dan bagaimana kondisi ekosistem saat itu.
Tim peneliti juga ingin mengetahui apakah ada struktur tempat api atau perapian yang lebih dalam di bagian gua. Jika ditemukan, perapian bisa menjadi sumber informasi penting karena aktivitas pembakaran meninggalkan jejak arang hingga perubahan kimia pada sedimen.
Lokasi tersebut terlindungi secara alami selama puluhan ribu tahun. Para arkeolog tidak sekadar menemukan gua tua, melainkan ruang yang sempat berhenti berubah selama puluhan ribu tahun sebelum akhirnya dibuka kembali.