Review Mazda CX-80 PHEV: Rasa Mesin Bensin di Era Elektrifikasi

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Minggu, 20 September 2026 | 12:32:31 WIB

ACEH — Mazda CX-80 PHEV mempertahankan sensasi berkendara mesin bensin besar di tengah dominasi PHEV yang mengejar efisiensi. Dengan harga Rp 1.199.900.000, SUV tiga baris ini menawarkan mesin 2.500 cc, transmisi otomatis delapan percepatan, dan kemampuan listrik 60 km. Tapi tidak adanya DC charging jadi catatan serius.

Mazda CX-80 hadir ketika hampir semua PHEV berlomba mengejar efisiensi dan keheningan kabin. Mazda memilih jalan berbeda: mempertahankan karakter mesin bensin besar yang perlahan hilang dari mobil modern. Kesan itu muncul sejak pertama kali mobil dibawa berkendara.

Mesin 2.500 cc dengan Transmisi Delapan Percepatan

CX-80 memakai mesin 2.500 cc empat silinder e-SKYACTIV PHEV yang menghasilkan 191 PS dan torsi 261 Nm. Yang membedakan dari PHEV lain, Mazda tidak memakai e-CVT atau transmisi single-speed. Mereka memasang transmisi otomatis delapan percepatan.

Hasilnya, setiap injakan pedal gas masih terasa sensasi mesin dan transmisi bekerja menggerakkan mobil. Ada perpindahan gigi, suara mesin saat putaran naik, hingga sedikit hentakan yang membuat pengalaman berkendara lebih hidup. Bagi sebagian orang mungkin terasa kuno, tapi bagi yang menikmati proses mengemudi, karakter ini justru daya tarik.

Listrik 60 Km untuk Harian, Tangki 70 Liter untuk Luar Kota

Meski mempertahankan rasa mesin bensin, CX-80 tetap menawarkan keunggulan PHEV. Baterainya memungkinkan mobil melaju dengan tenaga listrik hingga sekitar 60 km dalam kondisi penuh. Jarak itu cukup untuk mobilitas harian sebagian pengguna.

Pola pemakaian idealnya: mobil dipakai bekerja pagi hari, lalu diisi menggunakan wall charger ketika sampai rumah. Dengan cara ini, mesin bensin tidak harus selalu bekerja dan BBM jarang terpakai. Untuk perjalanan lebih jauh, mesin bensin mulai ambil peran. Tangki 70 liter membuat pengguna tidak terlalu bergantung pada stasiun pengisian daya.

Kombinasi ini membuat CX-80 terasa seimbang. Dalam kota efisien, di luar kota tetap menawarkan performa dan fleksibilitas SUV bermesin bensin. Catatan tambahan: pengguna perlu mengecas di rumah usai menggunakan mobil.

Belum Ada DC Charging, Pengisian Jarak Jauh Lebih Lama

Kekurangan paling signifikan CX-80 adalah belum mendukung DC charging. Artinya, pengisian baterai saat perjalanan jauh membutuhkan waktu lebih lama dibanding PHEV yang sudah punya fast charging. Untuk pengguna yang sering mobilitas antarkota, ini perlu dipertimbangkan.

Dimensi Besar, Manuver Tetap Mudah

Panjang 4.990 mm dan wheelbase 3.120 mm membuat CX-80 bukan SUV kecil. Tapi dimensi itu tidak membuatnya merepotkan untuk penggunaan harian. Setir jadi salah satu bagian yang paling menyenangkan: responsnya nurut, komunikatif, dan bobotnya pas. Untuk putar balik maupun bermanuver di perkotaan, CX-80 masih mudah dikendalikan.

Suspensinya tidak bisa disebut paling empuk di kelasnya. Ada karakter firm yang membuat body roll minim dan mobil terasa mantap saat melaju cepat. Namun hentakan transmisi pada kondisi tertentu terkadang terasa cukup kasar.

Interior Sederhana tapi Berkelas

Pendekatan Mazda juga terasa di interior. CX-80 tidak mencoba terlihat mewah dengan ornamen berlebihan. Material, bentuk, dan detail kabin dibuat sederhana tapi berkelas.

Fitur yang tersedia cukup lengkap: panoramic sunroof, audio Bose, ventilated seat, kamera 360 derajat, hingga ADAS. Mazda masih mempertahankan banyak tombol fisik. Bahkan fitur ADAS bisa dimatikan dan pengaturannya tetap tersimpan. Pendekatan ini sederhana, tapi menunjukkan Mazda memahami kebutuhan penggunanya.

Sebagai SUV tiga baris, CX-80 menawarkan akomodasi fleksibel. Konfigurasi captain seat di baris kedua jadi tempat paling nyaman. Baris ketiga masih cukup memadai untuk perjalanan tertentu.

Kelebihan

  • Karakter berkendara mesin bensin tetap terasa, tidak hambar seperti PHEV lain
  • Transmisi otomatis delapan percepatan memberi sensasi perpindahan gigi nyata
  • Jarak listrik 60 km cukup untuk mobilitas harian dalam kota
  • Tangki 70 liter mengurangi ketergantungan pada stasiun pengisian daya
  • Setir komunikatif dan bobot pas, manuver mudah meski dimensi besar
  • Interior berkelas tanpa ornamen berlebihan, tombol fisik masih dipertahankan

Kekurangan

  • Belum mendukung DC charging, pengisian baterai saat perjalanan jauh lebih lama
  • Hentakan transmisi pada kondisi tertentu terasa kasar
  • Suspensi firm, tidak seempuk kompetitor di kelasnya
  • Harga Rp 1.199.900.000 menempatkannya di segmen premium yang kompetitif

Verdict

Mazda CX-80 bukan PHEV untuk semua orang. Dengan harga Rp 1.199.900.000, mobil ini menawarkan sesuatu yang sulit dihitung dengan angka: rasa ketika berada di balik kemudi. Mazda tidak mencoba menjadi PHEV paling murah atau paling senyap. Mereka mempertahankan sesuatu yang menurut mereka masih penting.

Cocok untuk pengguna yang mengutamakan pengalaman berkendara dan belum siap sepenuhnya pindah ke EV murni. Kurang cocok untuk yang butuh fast charging untuk mobilitas antarkota intensif, atau yang menginginkan suspensi paling empuk di kelas SUV premium.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top