ACEH — Gina Jaqueline, kreator OnlyFans dan influencer media sosial, menjalani debut aktingnya lewat film drama Denmark berjudul Cute yang tayang perdana di Festival Film San Sebastian. Film garapan sutradara Marlene Emilie Lyngstad ini masuk seleksi New Directors dan mengangkat kisah seorang pria yang bergulat dengan perasaan terlarang terhadap anak tirinya. Jaqueline memerankan Stella, sosok yang memiliki banyak kesamaan dengan kehidupannya sendiri.
Gina Jaqueline bukan nama baru di dunia konten digital. Namun lewat film Cute, ia melangkah ke wilayah yang sama sekali berbeda: layar lebar. Film ini tayang perdana di Festival Film San Sebastian dan langsung masuk dalam seleksi New Directors, sebuah pencapaian yang tidak biasa untuk aktor debutan.
Sutradara Marlene Emilie Lyngstad mengaku gugup saat pertama kali memutar filmnya di hadapan direktur festival, José Luis Rebordinos. Ia khawatir penonton hanya melihat provokasi, bukan maksud yang ingin disampaikan.
"Ini film yang membelah penonton," kata Lyngstad kepada The Hollywood Reporter di Hotel Maria Cristina, San Sebastian. "Saya sangat gugup mendengar apakah orang melihat maksud film ini atau justru menganggapnya provokasi. Kami tahu tidak ada yang walk-out. Tapi mungkin saat mereka membaca sinopsisnya, mereka tidak mau menontonnya."
Cute ditulis Lyngstad bersama Emilie Koefoed Larse dan diproduksi Nordisk Film Production. Ceritanya mengikuti Richard, diperankan Jan Gunnar Røise, seorang pria yang dilanda perasaan terlarang terhadap anak tirinya yang berusia tujuh tahun.
Richard memilih meninggalkan kekasihnya dan mengasingkan diri ke rumah masa kecilnya. Rencana itu buyar ketika ia bertemu Stella, perawat ibunya, yang tengah bergulat dengan ketidaknyamanan menghadapi penuaan. Richard kemudian menemukan kehidupan ganda Stella sebagai camgirl bergaya Lolita.
Keduanya lantas membangun hubungan pengganti ayah-anak yang menembus batas. Richard tidur sambil menggenggam kaus kaki pink anak tirinya, memuaskan diri dengan suara anak itu, dan menikmati memperlakukan Stella seperti balita dengan menyuapinya makan dan menyikat giginya.
Lyngstad menghabiskan bertahun-tahun mencari aktor yang mampu menangani tema sensitif ini dengan tepat. Ia menemukan sosok itu pada Gina Jaqueline, yang ternyata memiliki banyak kesamaan dengan karakter Stella hingga sang sutradara sempat tidak percaya.
Jaqueline mengaku justru bukan adegan fetish yang paling menantang baginya. Koneksi emosional antara Stella dan Richard lah yang menurutnya paling sulit.
"Saya bisa bermain-main dengan banyak hal, tapi mencampur age play dengan perasaan, saya pribadi tidak akan melakukannya di kehidupan nyata," ujar Jaqueline kepada THR. "Saya sangat senang bermain dengan Jan dan saya menyukainya sebagai pribadi maupun aktor, tapi perannya... saya sulit menemukan simpati untuk itu."
Ada detail menarik dalam proses produksi. Sejumlah properti yang tampil di film merupakan barang asli milik Jaqueline, yang mengaku sebagai kolektor benda-benda "cute".
Lyngstad mengungkap bahwa ia pertama kali mengetahui Jaqueline dari sebuah dokumenter yang tayang di televisi Norwegia sekitar sepuluh tahun lalu. Dalam dokumenter itu, Jaqueline tampil sebagai kolektor barang lucu dengan koleksi pakaian dan objek yang banyak.
Jaqueline bahkan sempat menyebut soal seseorang yang suka berperan sebagai rubah dalam proses kreatif awal. Dalam film, peran itu diubah menjadi kucing, dan Jaqueline memiliki jubah kucing yang biasa dipakainya di rumah untuk menjaga kehangatan tubuh.
Lyngstad dan Jaqueline menegaskan bahwa mereka tidak meminta penonton menyukai atau menyetujui keinginan Richard. Keduanya berharap penonton pulang dengan pertanyaan, bukan jawaban.
Sang sutradara menyebut film ini sengaja dibiarkan berakhir terbuka. Menurutnya, topik semacam ini tidak akan hilang hanya karena tidak disentuh.
"Sangat sulit, tapi topik ini tidak akan hilang jika kita tidak menyentuhnya," kata Lyngstad. "Itu hanya memberi ruang bagi topik ini untuk tumbuh diam-diam dan menjadi lebih buruk bagi banyak orang."
Cute menjadi salah satu judul yang paling banyak dibicarakan di San Sebastian tahun ini. Bagi Jaqueline, debut aktingnya di film ini menandai perpindahan dari konten digital ke ruang yang jauh lebih luas, sekaligus menguji seberapa jauh industri film Eropa berani mengangkat tema yang jarang disentuh.