ACEH — DFSK membawa E5 Plus menempuh rute Jakarta–Bali sejauh lebih dari 1.200 kilometer untuk membuktikan kualitas rakitan dan ketahanan plug-in hybrid-nya di kondisi nyata. Dengan banderol mendekati setengah miliar rupiah, SUV PHEV ini berhadapan langsung dengan Chery Tiggo 8 CSH, Jaecoo J7 PHEV, dan Wuling Eksion PHEV. Pertanyaannya, apakah reputasi DFSK sebagai merek niaga cukup kuat menopang klaim premium di segmen ini?
PT Sokonindo Automobile menggelar test drive bertajuk E5 Plus Indonesia Media Journey, yang dijadwalkan berlangsung hingga Kamis (24/9/2026) melewati rute Jakarta–Surabaya–Bali. Perjalanan ini menjadi ajang pembuktian pertama E5 Plus di jalan raya Indonesia, sebelum konsumen diminta merogoh kocek di rentang harga yang jauh dari citra lama DFSK.
Selama hampir satu dekade beroperasi di Indonesia, DFSK lebih dikenal lewat kendaraan niaga. Pikap Super Cab dan minibus Gelora jadi andalan pedagang serta pelaku usaha kecil. Di segmen penumpang, DFSK hanya punya SUV Glory yang bermain di rentang harga menengah.
Citra yang terbangun dari situ jelas: merek fungsional dan terjangkau. Bukan premium. E5 Plus mencoba memutus asosiasi tersebut sekaligus, dengan banderol yang menempatkannya di wilayah yang sudah lebih dulu diisi merek-merek China dengan reputasi lebih mapan.
Di kelas ini, E5 Plus tidak bergerak di ruang kosong. Ada Chery Tiggo 8 CSH, Jaecoo J7 PHEV, dan Wuling Eksion PHEV yang sudah lebih dulu dikenal konsumen Indonesia. Ketiganya punya jaringan distribusi yang lebih matang dan rekam jejak layanan purnajual yang lebih teruji.
Artinya, DFSK tidak hanya bersaing soal spesifikasi dan harga. Mereka harus meyakinkan pembeli bahwa layanan setelah penjualan, ketersediaan suku cadang, dan nilai jual kembali bisa setara dengan kompetitor yang sudah lebih dulu ada.
Chief Operating Officer PT Sokonindo Automobile Franz Wang menyatakan pihaknya ingin peserta merasakan langsung kinerja kendaraan dalam perjalanan ini.
"Kami ingin memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana E5 Plus bekerja dan memberikan pengalaman berkendara dalam kondisi nyata," ujarnya.
Menurut Franz, E5 Plus merepresentasikan arah baru DFSK yang tengah bertransformasi menjadi merek kendaraan premium. Klaim itu masuk akal dari sisi positioning produk, tapi belum tentu diterima pasar begitu saja.
Citra premium tidak bisa dibangun hanya lewat daftar fitur. Konsumen di rentang harga mendekati setengah miliar rupiah membeli lebih dari sekadar spesifikasi. Mereka mencari kepastian: kualitas rakitan yang konsisten, jaringan servis yang siap, ketersediaan suku cadang, hingga nilai jual kembali yang tidak anjlok.
Uji Jakarta–Bali sejauh lebih dari 1.200 kilometer ini baru membuktikan satu hal: mobilnya sanggup dipakai jauh tanpa kendala. Soal durabilitas jangka panjang, respons bengkel resmi, dan harga jual kembali, itu baru terjawab setelah beberapa tahun pemakaian.
Perjalanan Jakarta–Bali ini strategi yang masuk akal untuk membangun kredibilitas. Tapi konsumen di segmen ini biasanya membandingkan lebih dari satu merek sebelum memutuskan, dan DFSK harus siap dengan jawaban soal layanan purnajual serta nilai residu.
E5 Plus punya kesempatan untuk mengubah persepsi merek, asalkan Sokonindo serius membangun infrastruktur layanan yang setara dengan klaim premiumnya. Tanpa itu, E5 Plus berisiko jadi produk bagus yang tersandera citra lama.