ACEH UTARA — Pemerintah Kabupaten Aceh Utara resmi menetapkan Saidul Qausar dan Mud Maina sebagai Duta Wisata Agam dan Inong tahun 2026. Penobatan ini berlangsung dalam acara Grand Final yang digelar meriah di Aula Setdakab Aceh Utara pada Sabtu (2/4/2026) malam.
Perhelatan tersebut mengusung tema "Pulih Lebih Cepat, Tumbuh Lebih Kuat" sebagai simbol kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bumi Pase. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, serta jajaran pejabat di lingkungan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Aceh Utara.
Pemilihan tahun ini bukan sekadar ajang seremonial tahunan. Pemerintah daerah memproyeksikan para pemenang sebagai ujung tombak dalam memasarkan kekayaan seni, budaya, dan destinasi wisata unggulan ke kancah global.
Penekanan Kualitas 3B bagi Duta Wisata Terpilih
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., melalui Kabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Umar Ali, S.Sos., MAP., menekankan pentingnya kualitas personal para duta. Seleksi tahun ini menitikberatkan pada tiga aspek utama, yakni kecerdasan (Brain), penampilan (Beauty), dan kepribadian (Behavior).
“Ini adalah langkah strategis dalam merekrut putra-putri terbaik daerah yang mampu menjadi wajah dan suara Aceh Utara dalam mempromosikan potensi wisata, baik di tingkat regional, nasional, hingga internasional,” ujar Umar Ali saat membacakan sambutan tertulis Bupati.
Umar menambahkan bahwa ajang ini menjadi wadah pembinaan bagi generasi muda agar memiliki wawasan luas serta daya saing tinggi. Para finalis telah melewati proses penilaian yang komprehensif, mulai dari tes kemampuan bahasa asing, pengetahuan umum, hingga pemahaman mendalam mengenai kearifan lokal.
Promosi Pariwisata Tetap Berpegang pada Syariat Islam
Selain aspek kompetensi, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memberikan instruksi khusus kepada Saidul Qausar dan Mud Maina. Sebagai duta wisata di daerah yang menerapkan otonomi khusus, mereka wajib menjaga marwah daerah dalam setiap aktivitas promosi.
“Promosikan Aceh Utara ke dunia luar, namun tetap berpegang teguh pada jati diri dan marwah daerah,” tegas Umar Ali di hadapan para finalis dan tamu undangan.
Para duta wisata diminta untuk tetap mengedepankan nilai-nilai syariat Islam dan adat istiadat Aceh dalam berperilaku maupun berpakaian. Hal ini dianggap krusial agar citra pariwisata Aceh Utara tetap selaras dengan identitas masyarakatnya yang religius dan menjunjung tinggi norma kesopanan.
Pembentukan Karakter dan Estafet Kepemimpinan Muda
Plh. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Aceh Utara, Nurlaila, menyatakan bahwa ajang Agam Inong merupakan sarana pembentukan karakter. Menurutnya, seluruh finalis yang berhasil mencapai tahap Grand Final adalah pemenang yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa.
“Agam dan Inong terpilih nantinya diharapkan menjadi teladan di tengah masyarakat sekaligus ujung tombak dalam mempromosikan kekayaan wisata, seni, dan budaya Aceh Utara,” kata Nurlaila dalam sambutannya.
Ia juga memberikan motivasi kepada para peserta yang belum berhasil meraih gelar juara agar tidak berkecil hati. Nurlaila menegaskan bahwa bekal pengalaman selama masa karantina dan kompetisi merupakan modal berharga untuk berkontribusi bagi daerah di masa mendatang.
Penobatan Saidul Qausar dan Mud Maina sebagai Duta Wisata 2026 menandai dimulainya masa tugas mereka selama satu tahun ke depan. Keduanya akan segera terlibat dalam berbagai agenda promosi wisata dan kebudayaan guna memperkuat posisi Aceh Utara sebagai destinasi unggulan di Aceh.