LHOSEUMAWE — Prof Zulfikar yang merupakan alumni pesantren tersebut mengaku terharu bisa kembali ke almamater. Ia menyebut kegiatan ini sebagai momentum nostalgia sekaligus kesempatan berbagi pengalaman kepada generasi penerus.
Dalam pemaparannya, ia mengingatkan bahwa organisasi tidak bisa dijalankan seorang diri. "Organisasi bukan tentang superman, tetapi super team yang dibangun bersama oleh seluruh anggota," tegas Prof Zulfikar di hadapan para santri.
Disiplin Dimulai dari Pemimpin Sendiri
Prof Zulfikar menekankan bahwa amanah sebagai pengurus organisasi adalah kebanggaan sekaligus sarana belajar berharga. Menurutnya, pengalaman menjadi guru terbaik dalam membentuk kepemimpinan dan kedewasaan seseorang.
Ia juga menyoroti pentingnya keteladanan. Seorang pemimpin, kata dia, harus mendisiplinkan diri terlebih dahulu sebelum menerapkannya kepada anggota. "Kita harus mendisiplinkan diri terlebih dahulu, barulah menerapkannya kepada anggota," ujarnya.
Evaluasi Diri Kunci Organisasi Sehat
Tanpa evaluasi, organisasi akan kehilangan arah dan tujuan. Prof Zulfikar menjelaskan bahwa organisasi adalah ruang pembelajaran konkret yang harus dibarengi dengan refleksi dan introspeksi diri secara berkala.
"Organisasi mengajarkan kedewasaan, keseimbangan, dan rasa tanggung jawab yang mulia," tuturnya.
Ia berpesan agar seluruh pengurus memiliki sikap teguh pendirian dan saling mendukung antarseksi. Keterbukaan terhadap kritik dan saran, menurutnya, menjadi syarat agar roda organisasi terus bergerak maju.
Perubahan Berkelanjutan: Jadi Lebih Baik dari Diri Sendiri
Prof Zulfikar mengingatkan bahwa kompetisi sejati bukan melawan orang lain, melainkan melawan diri sendiri di masa lalu. "Orang yang pintar, cerdas, dan bijak tidak akan jatuh ke lubang yang sama," katanya.
Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Pesantren Modern Misbahul Ulum, Ustaz Martunis, S.Pd., Gr., M.Hum., M.Pd., para pembina organisasi, dan wali asrama. Diklat ini menjadi ajang pembekalan bagi pengurus baru sebelum menjalankan program kerja periode 2026–2027.