BANDA ACEH — Puan dan Aisyah belum paham konotasi rumit yang melekat pada jazz. Mereka hanya maju ke mikrofon, menyanyikan nada, dan menerima tepuk tangan yang oleh seorang pianis di panggung disebut sebagai yang paling Aceh.
Momen itu terjadi di panggung Khanduri Jazz 2026. Dari kursi piano, sang pianis menyaksikan sesuatu yang tak terlihat dari barisan penonton: tepuk tangan itu bukan sekadar apresiasi pada anak kecil yang lucu. "Bukan sopan. Bukan sekadar apresiasi. Sesuatu yang lebih keras dari itu, dan lebih hangat," tulisnya.
Dua Bocah dan Sebuah Sekolah Musik yang Bertahan 35 Tahun
Di balik penampilan Puan dan Aisyah, ada Sekolah Musik Moritza (SMM) yang dirintis pada 1991. Saat itu pendirinya masih mahasiswa kedokteran Universitas Syiah Kuala, dan seorang teman menyindir: "Yang lebih jago aja nggak buka sekolah musik, sedangkan kamu."
Tiga puluh lima tahun kemudian, panggung Khanduri Jazz 2026 diisi oleh para murid lama SMM. Teuku Mahfud, yang bergabung pada 1993 sebagai pemain drum, kini duduk di kursi yang sama meski jabatannya kini Ketua PDI-P Banda Aceh. Ada juga Akhyar, yang sudah bermain bersama sejak 1990—sebelum sekolah itu berdiri.
Dari Murid Tsunami hingga Komposer Orkestra
Satu nama membuat rantai itu terasa lengkap: Erlinda Sofyan. Ia masuk SMM setelah tsunami 2004. Sepuluh tahun kemudian, pada 2014, Erlinda tampil solo di Yogyakarta selama 45 menit membawakan karya orkestra karyanya sendiri, "Sultan Iskandar Muda."
Malam itu di Khanduri Jazz, Erlinda—kini dosen di ISBI Aceh—yang membimbing Puan dan Aisyah ke panggung. Ia juga membawakan lagu "Mulia Tamu di Puan Perak," musik funk jazz berakar etnik Aceh, yang ia persembahkan untuk gurunya.
Peumulia Jamee: Nilai Aceh di Panggung Jazz
Ada tradisi di Aceh bernama peumulia jamee—memuliakan tamu. Bukan sekadar keramahan, melainkan memberi ruang kepada yang baru datang, bahkan ketika mereka belum tahu cara berjalan di sana.
Penonton malam itu, menurut sang pianis, memuliakan dua tamu kecil yang masuk ke ruang jazz—ruang yang punya hierarki dan ekspektasi—tanpa beban semua itu di pundak mereka. "Itu adalah tepuk tangan yang paling Aceh yang pernah saya dengar di panggung jazz," tulisnya.
Pintu Terbuka yang Membuat Ruang Tumbuh
Dari panggung itu, muncul satu pertanyaan yang mengendap: apa yang membuat sebuah ruang bertahan dan tumbuh? Bukan selalu yang paling piawai, kata sang pianis, melainkan yang paling berani tidak memasang larangan di pintu.
"Puan dan Aisyah masuk karena ada pintu yang dibiarkan terbuka," tulisnya. Di Banda Aceh malam itu, tepuk tangan untuk dua anak kecil menjadi bukti bahwa pintu itu masih terbuka lebar.