ACEH TENGGARA — Air sungai yang meluap deras membawa material berat berupa bebatuan dan kayu gelondongan. Material itu menyumbat jembatan di kawasan tersebut, memperparah luapan air hingga masuk ke permukiman warga dan menutupi ruas jalan nasional Kutacane-Medan.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat total 47 kepala keluarga atau sekitar 158 jiwa terdampak. Kerusakan rumah bervariasi, mulai dari retak dinding hingga struktur bangunan yang ambruk akibat terjangan air dan lumpur.
Dua Desa Terparah: Lawe Tua Gabungan dan Lawe Tua Makmur
Kepala Pelaksana BPBA, Bahron Bakti, menyebut banjir terjadi akibat tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Debit air sungai meningkat drastis, sehingga tak mampu ditampung aliran normal.
"Banjir terjadi di Desa Lawe Tua Gabungan dan Lawe Tua Makmur, Aceh Tenggara, telah menyebabkan rumah warga rusak," kata Bahron dalam laporannya di Banda Aceh, Senin (11/5/2026).
Akses Jalan Nasional Pulih, Proses Pembersihan Berlanjut
BPBA memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Meski demikian, proses evakuasi dan pendataan jumlah warga yang mengungsi masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.
Kini, kondisi di lokasi mulai berangsur membaik. Air yang sempat meluap telah surut, dan akses jalan Kutacane-Medan sudah bisa dilalui kembali kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Kini, akses jalan Kutacane-Medan sudah dapat dilalui kembali, dan air mulai surut,” ujar Bahron.
Lumpur dan Material Masih Menumpuk di Pemukiman
Meski akses jalan utama pulih, pembersihan material lumpur dan kayu gelondongan di area permukiman warga masih terus berlangsung. Tim gabungan dari BPBA, TNI, Polri, dan relawan setempat dikerahkan untuk membantu warga membersihkan rumah dan fasilitas umum.
Banjir bandang di Aceh Tenggara ini menjadi pengingat akan tingginya kerentanan wilayah tersebut terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat intensitas hujan tinggi melanda kawasan hulu sungai.