BANDA ACEH — Sebanyak 1,2 juta dari total 7,25 juta nasabah tabungan haji BSI merupakan generasi milenial dan Gen-Z. Angka ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) bank syariah pelat merah tersebut yang mencapai Rp376,8 triliun, tumbuh 18 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal I 2026.
Dominasi Pasar Haji Nasional
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyebut tabungan haji menjadi engine growth perseroan. Data menunjukkan, pangsa pasar BSI dalam pendaftaran haji nasional meningkat dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025.
Dari total 422.300 pendaftar haji nasional tahun lalu, sebanyak 226.400 orang mendaftar melalui BSI. Bahkan, untuk fase keberangkatan tahun 2026, sebanyak 83,5 persen dari total kuota keberangkatan adalah jemaah yang mendaftar lewat BSI.
Dana Murah dan Aset Tembus Rp460 Triliun
Pertumbuhan DPK BSI tidak hanya tinggi secara nominal, tetapi juga berkualitas. Segmen dana murah (CASA) tumbuh 21,36 persen secara tahunan menjadi Rp236,2 triliun. Giro naik 24,17 persen menjadi Rp71,7 triliun, sementara tabungan tumbuh 20,18 persen menjadi Rp164,5 triliun.
“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” kata Anggoro dalam paparan kinerja perseroan. Total aset BSI per Maret 2026 mencapai Rp460,1 triliun, mengantarkan bank ini naik peringkat ke jajaran Top 5 Bank di Indonesia.
Dual Licence: Syariah dan Emas
Keunikan BSI sebagai satu-satunya bank yang mengantongi lisensi ganda—bank syariah dan bank emas—terbukti mendongkrak inklusivitas. Saat ini, nasabah non-Muslim BSI mencapai 12 persen. Lisensi emas juga mendorong pertumbuhan Fee Based Income (FBI) yang mencapai Rp2,09 triliun, naik 22,98 persen secara tahunan.
Bisnis emas menjadi kontributor tertinggi FBI dengan nilai Rp705 miliar, tumbuh 125 persen secara tahunan. Pembiayaan gadai emas melonjak 58,3 persen, sementara layanan E-mas tumbuh lebih dari 2.700 persen.
Laba Bersih Rp2,2 Triliun, Kualitas Pembiayaan Terjaga
Pada triwulan I 2026, BSI membukukan laba bersih Rp2,2 triliun, tumbuh 17,1 persen secara tahunan. Kinerja ini didorong oleh penurunan biaya dana ke level 2,12 persen dan penjagaan kualitas pembiayaan. Rasio Non-Performing Financing (NPF) gross tercatat 1,8 persen, membaik dari periode sebelumnya.
Total pembiayaan BSI tumbuh 14,39 persen secara tahunan menjadi Rp329 triliun, dengan mayoritas 72,37 persen disalurkan ke segmen konsumer dan ritel. Direktur Finance and Strategy Ade Cahyo Nugroho menyebut, “Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain.”