ACEH — Kesepakatan yang dijalin bukan sekadar nota kesepahaman biasa. MIND ID dan ERG telah menyetujui eksplorasi kerja sama di sejumlah bidang strategis—mulai dari eksplorasi, pengolahan mineral, hingga strategi hilirisasi bauksit menjadi aluminium. Tak berhenti di situ, lingkupnya juga mencakup riset dan pengembangan (R&D), pertukaran teknologi, pemasaran, hingga knowledge sharing yang didahului dengan Non-Disclosure Agreement (NDA).
Mengapa Kazakhstan Jadi Mitra Strategis?
Maroef menekankan bahwa karakteristik industri Kazakhstan dan Indonesia memiliki kemiripan. ERG dan Samruk-Kazyna dinilai potensial menjadi mitra ideal untuk mengembangkan komoditas mineral strategis. Optimisme ini didasari oleh peluang besar dalam mengembangkan rantai nilai dari bijih bauksit ke aluminium, termasuk pengolahan mineral kritis lainnya.
"Sinergi ini tidak hanya tentang bisnis, tetapi juga mengamankan teknologi dan akses pasar yang akan memperkuat hilirisasi dan investasi di tanah air," ujar Maroef dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (15/5).
Diplomasi di Balik Kerja Sama Pelat Merah
Duta Besar RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan, M. Fadjroel Rachman, yang turut mendampingi kunjungan, menekankan pentingnya dukungan diplomasi di tengah kerja sama antar-BUMN lintas negara ini. Menurutnya, hubungan bilateral Indonesia-Kazakhstan kini memasuki fase implementasi yang lebih teknis dan berorientasi pada hasil ekonomi nyata.
Fase ini dimungkinkan setelah penandatanganan Indonesia-Eurasian Economic Union (EAEU) Free Trade Agreement pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg, Rusia, serta Sidang Komisi Bersama Indonesia-Kazakhstan di Astana.
"Ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan, baik dengan Samruk-Kazyna sebagai pengelola aset negara maupun dengan ERG sebagai pemimpin pasar mineral dunia," kata Fadjroel.
Target Ekonomi dan Dampak ke Industri Nasional
Fadjroel menambahkan, Kazakhstan merupakan pintu gerbang energi, mineral, dan gandum di Asia Tengah. Lewat kolaborasi ini, MIND ID diharapkan dapat mempercepat implementasi teknologi ramah lingkungan dan efisiensi operasional di setiap unit usaha di Indonesia. Pasokan bahan baku strategis pun diyakini tetap terjaga demi keberlangsungan industri manufaktur nasional.
FTA Indonesia-EAEU ditargetkan menghasilkan perdagangan baru senilai US$10 miliar, sementara perdagangan bilateral Kazakhstan-Indonesia sendiri ditargetkan mencapai US$2 miliar. Rencana selanjutnya, Sidang Komisi Bersama yang dipimpin Menko Airlangga Hartarto akan diikuti kunjungan kenegaraan Presiden Kazakhstan ke Indonesia.
Langkah ini menjadi batu loncatan bagi MIND ID untuk tak lagi sekadar menjadi pemain domestik, melainkan ikut mengendalikan rantai pasok mineral dunia—dari hulu hingga hilir.