ACEH — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 13 poin di level Rp 17.681 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga pukul 10.24 WIB, kurs mencapai Rp 17.724 per dolar AS. Level ini memecahkan rekor terlemah sebelumnya dan menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi domestik.
Apa Dampaknya bagi Harga Barang dan Biaya Hidup?
Pelemahan rupiah membuat biaya impor membengkak. Barang-barang dengan kandungan impor tinggi—seperti gawai, suku cadang kendaraan, dan bahan baku farmasi—dipastikan naik harga dalam waktu dekat. Pelaku UMKM yang menggunakan bahan baku impor juga akan merasakan tekanan biaya produksi.
Tekanan ini belum menunjukkan tanda mereda. Mayoritas mata uang Asia juga ikut terpuruk. Won Korea Selatan melemah 0,74%, baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang 0,08%. Dolar AS kembali menjadi raja di kawasan.
Mengapa Rupiah Terus Merosot?
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, ada dua faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Pertama, meredanya kekhawatiran perang antara AS dan Iran setelah Presiden Donald Trump menunda rencana serangan. Sentimen ini justru memperkuat dolar AS karena pelaku global kembali memarkir dana di aset safe haven Amerika.
"Kedua, pelaku pasar masih menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan membuat investor cenderung wait and see," jelas Lukman. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS sepanjang hari ini.
Kapan BI Akan Bertindak?
Investor dan pelaku pasar kini fokus pada keputusan Bank Indonesia yang dijadwalkan rampung dalam waktu dekat. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan mendorong BI untuk menaikkan suku bunga acuan (BI rate) demi menjaga stabilitas nilai tukar. Kenaikan suku bunga ini, jika terjadi, akan berdampak langsung pada biaya kredit perbankan dan cicilan KPR.
Lukman menambahkan, meski ada potensi penguatan terbatas, kondisi fundamental domestik yang masih lemah membuat rupiah sulit berbalik arah. "Pelaku pasar tetap mencermati kondisi dalam negeri yang dinilai rapuh," ujarnya.
Berapa Kerugian yang Sudah Dialami?
Sepanjang tahun kalender 2025, depresiasi rupiah mencapai 6,25%. Bagi investor yang memegang aset dalam rupiah, nilai portofolio mereka sudah tergerus secara riil. Sementara bagi importir, setiap transaksi pembelian barang dari luar negeri kini harus dibayar lebih mahal.
Tekanan terbesar justru dirasakan oleh sektor manufaktur yang mengimpor bahan baku. Jika rupiah terus melemah, margin keuntungan produsen lokal akan tergerus dan berujung pada kenaikan harga jual produk di pasaran.
Apakah Rupiah Bisa Kembali Menguat?
Potensi penguatan masih ada, namun terbatas. Sentimen positif dari gencatan senjata AS-Iran bisa memberikan ruang napas sesaat. Namun, tanpa keputusan tegas dari BI dan perbaikan fundamental ekonomi domestik, rupiah masih rentan terhadap tekanan eksternal.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan RDG BI dan data ekonomi AS selanjutnya untuk menentukan langkah.