Pencarian

Google Stadia Sudah Mati 3 Tahun, Eks Pengguna Ungkap Kenapa Layanan Cloud Gaming Itu Layak Dikenang

Sabtu, 01 Agustus 2026 • 07:06:31 WIB
Google Stadia Sudah Mati 3 Tahun, Eks Pengguna Ungkap Kenapa Layanan Cloud Gaming Itu Layak Dikenang
Google Stadia resmi dihentikan tiga tahun lalu, namun sejumlah pengguna masih mengenang keunggulan teknisnya dalam cloud gaming.

ACEH — Layanan cloud gaming besutan Google itu memang sempat dianggap sebagai lompatan besar di industri game. Dengan hanya mengandalkan koneksi internet, pengguna bisa memainkan judul-judul AAA seperti Red Dead Redemption 2 dan Cyberpunk 2077 di perangkat apa pun—mulai dari TV, laptop, hingga ponsel—tanpa perlu konsol atau PC gaming mahal.

Pengalaman Bermain yang Sulit Dilupakan

Bagi sebagian pengguna, Stadia bukan sekadar teknologi. Ia menghadirkan fleksibilitas yang belum pernah ada sebelumnya. Seorang pengguna menceritakan pengalamannya berpindah perangkat secara instan—dari PC desktop ke ponsel di tengah taman—tanpa kehilangan progres permainan. Lag yang dialaminya pun terbilang minim, hanya sekitar 10-15 kali selama bermain di jaringan 5G, dan tidak pernah sekali pun saat terhubung ke koneksi gigabit di rumah.

Pengalaman ini terasa lebih mulus dibanding kompetitornya, GeForce Now. Stadia tidak memerlukan akun yang rumit, tidak ada launcher yang mengganggu, dan yang terpenting, tidak butuh keahlian teknis untuk sekadar masuk ke dalam game.

Katalog Game Terbatas, Koneksi Jadi Penentu

Keunggulan teknis tersebut ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan Stadia. Katalog gamenya tergolong kecil, dan hal ini menjadi salah satu faktor utama kegagalannya. Selain itu, pengalaman peluncuran yang buruk pada 2019 ikut memperburuk citra platform. Presentasi perdana di GDC 2019 dinilai berantakan; Google terlalu banyak berjanji soal kemampuan teknis, namun gagal memberikan informasi harga dan tanggal rilis yang jelas. Bahkan, CEO Google saat itu, Sundar Pichai, secara blak-blakan mengaku bukan seorang gamer.

Masalah koneksi juga menjadi momok. Banyak ulasan awal yang menunjukkan performa buruk akibat pembatasan jaringan, dan pengalaman buruk pertama itu langsung menjadi vonis bagi layanan berbasis cloud. Padahal, di masa kejayaannya, Stadia sempat menjadi primadona saat banyak orang terjebak di rumah selama pandemi. Namun, kegagalan Google memanfaatkan momentum tersebut menjadi alarm kematian yang tak terhindarkan.

Model Sewa dan Kekhawatiran Masa Depan

Model bisnis yang ditawarkan Stadia juga menjadi sorotan. Konsep "menyewa" game alih-alih memilikinya mendapat tentangan dari banyak gamer. Beberapa pihak menilai Google seharusnya mengadopsi model berlangganan ala Netflix, yang memungkinkan pengguna mengakses semua game dengan biaya bulanan. Langkah itu mungkin bisa memperpanjang usia platform, tetapi pada akhirnya, perubahan lanskap industri game dan hadirnya teknologi AI membuat eksistensi Stadia semakin terpinggirkan.

Warisan yang Ditinggalkan

Meski gagal secara komersial, Stadia meninggalkan warisan penting. Ia membuktikan bahwa cloud gaming secara teknis sangat mungkin dijalankan. Kini, nama-nama besar seperti GeForce Now, Xbox Cloud Gaming, dan PlayStation Plus Premium meneruskan estafet tersebut dengan basis pengguna yang lebih solid dan katalog game yang jauh lebih kaya.

Stadia mungkin telah tiada, tetapi pengalaman bermain tanpa batasan perangkat yang pernah ditawarkannya tetap menjadi kenangan manis—setidaknya bagi mereka yang sempat merasakannya.

Bagikan
Sumber: 9to5google.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks