ACEH — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,11% atau 20,2 poin ke level Rp17.741 per dolar AS pada perdagangan Jumat (18/9/2026), melanjutkan tekanan dari sesi sebelumnya di Rp17.720,8. Pelemahan terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75%-4%, kenaikan pertama sejak 2023, dengan sinyal satu kenaikan tambahan masih terbuka hingga akhir tahun.
Kurs USD/IDR bergerak fluktuatif sepanjang sesi, menyentuh titik terendah harian Rp17.710,1 dan tertinggi Rp17.772,5. Posisi penutupan di Rp17.741 memperpanjang tren pelemahan rupiah yang sepanjang 52 minggu terakhir membentang dari Rp16.509,5 hingga Rp18.197,5 per dolar AS.
Tekanan datang dari keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Ketua The Fed Kevin Warsh memberi sinyal bahwa satu kali kenaikan tambahan masih berpeluang terjadi sebelum akhir 2026 apabila inflasi belum menunjukkan perlambatan yang meyakinkan.
Nada komunikasi Warsh dinilai lebih hawkish dibandingkan ekspektasi pasar sebelumnya. Pasar sebelumnya memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga lebih lama sebelum mempertimbangkan kenaikan lanjutan.
Rupiah Bukan Satu-satunya Mata Uang yang Tertekan
Pelemahan terhadap dolar AS terjadi merata di kawasan Asia. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam dengan -0,61%, disusul ringgit Malaysia -0,54%. Yen Jepang justru bergerak berlawanan, menguat 0,30% di tengah gejolak yang sama.
Pergerakan kurs harian:
- Level penutupan: Rp17.741,0 per dolar AS
- Perubahan harian: -20,2 poin (-0,11%)
- Penutupan sebelumnya: Rp17.720,8
- Rentang harian: Rp17.710,1 - Rp17.772,5
- Rentang 52 minggu: Rp16.509,5 - Rp18.197,5
Proyeksi Bank Indonesia hingga 2027
Bank Indonesia memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS hingga 2027. Otoritas moneter menilai fundamental rupiah masih terjaga, dengan kebijakan moneter tetap difokuskan pada stabilitas dan kecukupan likuiditas perekonomian.
Proyeksi tersebut menempatkan posisi saat ini di batas atas rentang yang diperkirakan BI. Artinya, ruang penguatan rupiah masih terbuka jika tekanan eksternal mereda, namun risiko tembus ke atas Rp17.800 tetap ada bila The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Fluktuasi rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu variabel yang perlu diperhatikan investor dalam mengelola portofolio. Eksposur ke aset berbasis dolar menjadi pertimbangan tersendiri di tengah dinamika pasar global maupun domestik.
Bagi investor yang ingin memiliki eksposur dolar tanpa menghadapi kompleksitas transaksi valuta asing konvensional, instrumen berbasis stablecoin seperti USDT dan USDC menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan sesuai profil risiko masing-masing.
Pergerakan kurs dalam beberapa sesi ke depan akan bergantung pada data inflasi Amerika Serikat dan retorika pejabat The Fed menjelang pertemuan berikutnya. Pasar juga menantikan respons Bank Indonesia untuk menjaga daya beli dan stabilitas harga barang impor.