BANDA ACEH — Jenazah H. Sjamsul Kahar dibawa pulang ke Darul Imarah, Aceh Besar, untuk disemayamkan. Prosesi pemakaman dilakukan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gampông Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.
Sjamsul Kahar merupakan ayah kandung Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh pers paling berpengaruh di tanah Serambi Mekkah.
Merintis Serambi Indonesia dari Koran Mimbar Swadaya
Bersama sahabat karibnya, almarhum M. Nourhalidyn, Sjamsul Kahar ikut merintis koran Mimbar Swadaya. Koran itu kemudian bertransformasi menjadi Harian Serambi Indonesia di bawah Kompas Gramedia Group.
Serambi Indonesia terbit perdana pada 9 Februari 1989. Sebelum mendirikan koran tersebut, Sjamsul Kahar lama bertugas sebagai Koresponden Harian Kompas di Aceh.
Menakhodai Serambi Indonesia Lewat Masa Konflik dan Tsunami
Keteguhan kepemimpinan Sjamsul Kahar diuji saat memimpin Serambi Indonesia melewati masa konflik bersenjata di Aceh. Ia juga membawa koran itu bertahan melewati masa kedaruratan pasca-tsunami 2004.
Di bawah arahannya, Serambi Indonesia tetap terbit hanya enam hari setelah bencana tsunami melanda. Langkah itu diambil demi memastikan masyarakat Aceh tidak terisolasi dari arus informasi.
Jejak di PWI Aceh dan Penghormatan Insan Pers
Sjamsul Kahar pernah menahkodai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode. Di kalangan wartawan saat ini, ia akrab disapa Atok.
Pemimpin Redaksi Komparatif.Id, Muhajir Juli, menyampaikan rasa duka mendalam. Ia mengaku sangat kehilangan sosok yang disebutnya sebagai guru jurnalistik.
"Semoga Allah menempatkan arwahnya di sisi terbaik. Saya ikut berdukacita," sebut Muhajir Juli.
Kepergian Sjamsul Kahar meninggalkan duka bagi keluarga besar Serambi Indonesia Group, para kolega, dan masyarakat Aceh. Ia dikenal sebagai salah satu putra terbaik yang meletakkan fondasi media cetak modern di Aceh.