Pencarian

Daratan Baru Dekat Anak Krakatau Meluas 32,8 Hektare, Pakar: Bukan "Cucu Krakatau"

Kamis, 24 September 2026 • 12:33:31 WIB
Daratan Baru Dekat Anak Krakatau Meluas 32,8 Hektare, Pakar: Bukan
Citra satelit Sentinel mendeteksi penambahan daratan seluas 32,8 hektare pada tubuh Gunung Anak Krakatau.

ACEH — Daratan baru seluas 32,8 hektare muncul di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau akibat endapan material vulkanik dari erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Edukator Mitigasi Bencana IABI, Daryono, menegaskan daratan itu bukan gunung api baru karena tidak memiliki saluran magma mandiri maupun aktivitas erupsi sendiri. PVMBG mendeteksi perluasan ini lewat citra satelit Sentinel di sektor barat laut hingga barat daya gunung.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menyatakan penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau terjadi di sektor barat laut, barat, hingga barat daya. Material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus menjadi penyebab utama, dengan total penambahan luasan mencapai 32,8 hektare.

Selain perluasan pada tubuh utama gunung, citra satelit Sentinel juga menangkap kemunculan gumuk pulau kecil di sebelah barat laut dan tenggara Anak Krakatau. Kedua daratan baru itu diduga kuat berkaitan dengan erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam.

Bagaimana Daratan Itu Terbentuk

Edukator Mitigasi Bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, daratan tersebut tersusun dari material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava yang mengendap di laut. Proses penumpukan berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas vulkanik hingga material akhirnya muncul ke permukaan.

Menurut Daryono, ada kombinasi faktor geologis dan oseanografis yang membuat endapan cepat menumpuk. Dasar laut di area cekungan atau kaldera bekas letusan Krakatau 1883 tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat mencapai ketinggian tertentu. Lontaran batuan, magma, dan aliran lava selama erupsi juga dominan mengarah ke area tersebut.

Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda turut memindahkan endapan. Material erosi ringan terbawa ke titik perairan yang lebih tenang, lalu mengendap secara permanen. Interpretasi sementara PVMBG menunjukkan magma encer keluar melalui jalur rekahan memanjang dari barat laut ke tenggara, dan material yang menyembur dari jalur itu menumpuk di lokasi terpisah.

Mengapa Belum Bisa Disebut Gunung Api Baru

Daryono menegaskan daratan ini belum memenuhi tiga kriteria geologis utama sebuah gunung api. Kriteria pertama, sebuah daratan harus punya saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui celah rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya.

Kriteria kedua, daratan itu harus menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga. Kriteria ketiga, harus ada struktur geologis dan deformasi sendiri melalui gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.

Nasib Daratan: Bisa Membesar, Bisa Hilang

Jika Gunung Anak Krakatau terus erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan makin meluas. Kepadatannya juga bertambah kokoh karena terus dilapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras.

Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga hilang dari permukaan. Longsoran bawah laut atau letusan besar juga disebut bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat.

Imbauan untuk Warga Sekitar

Daryono meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini, katanya, adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif.

Warga diimbau tetap tenang, tidak panik, dan mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan petugas, yakni radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Pemantauan citra satelit dan evaluasi PVMBG akan terus dilakukan selama aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berlangsung.

Follow www.iniaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks