ACEH — Proton menemukan hampir semua 100 game gratis terpopuler di Google Play Store mengandung pelacak data yang mengirim informasi pribadi ke perusahaan ad-tech di China, Rusia, Israel, dan negara Five Eyes. Di Amerika Serikat saja, game yang berbagi data ke China diunduh 15,8 juta kali dalam sebulan. Temuan ini menyoroti risiko privasi yang jarang disadari pengguna game gratis.
Penyedia layanan VPN dan email aman asal Swiss, Proton, menganalisis 100 game free-to-play teratas di Google Play Store yang totalnya telah diunduh hampir 20 miliar kali di seluruh dunia. Hasilnya, mayoritas game tersebut menyisipkan pelacak yang mengirim data pengguna ke luar negeri.
Daftar game yang dimaksud bukan aplikasi pinggiran. Ada nama-nama populer seperti Block Blast!, Disney Solitaire, dan Subway Surfers yang masuk dalam pemeriksaan.
Data Apa Saja yang Dikumpulkan
Pelacak dalam game-game ini mampu memanen berbagai informasi dari perangkat pengguna. Mulai dari tipe perangkat, kebiasaan pemakaian, data pembayaran, usia, jenis kelamin, hingga lokasi fisik.
Pengembang game umumnya tidak mengungkap secara rinci data apa yang diambil. Proton menilai praktik ini berjalan dengan transparansi minim dan tanpa akuntabilitas yang berarti.
Skala Pelacakan di Berbagai Negara
Proton memeriksa 100 game teratas di sejumlah wilayah sepanjang Mei 2026. Di Amerika Serikat, game-game tersebut diunduh hampir 20 juta kali dalam satu bulan.
Dari jumlah itu, game yang aktif berbagi data dengan perusahaan China tercatat 15,8 juta unduhan. Sementara game yang mengirim data ke entitas Rusia mencapai 13,7 juta unduhan.
Kondisi di Inggris tak jauh berbeda. Dari 3,6 juta unduhan pada Mei, 3 juta di antaranya mengandung pelacak China dan 2,7 juta mengandung pelacak Rusia.
Yang lebih mengejutkan, 99 persen total unduhan di Inggris menyertakan pelacak yang mengalirkan data ke entitas Five Eyes. Artinya, informasi pribadi berpotensi dibagikan luas di antara badan intelijen negara-negara aliansi tersebut.
Riset ini juga menemukan game di Inggris bisa memuat hingga 36 pelacak berbeda dalam satu aplikasi.
Mengapa Pelacakan Lokasi Paling Berbahaya
Dari semua jenis data yang disedot perusahaan ad-tech, pelacakan lokasi dinilai paling mengkhawatirkan. Di AS, game yang menyertakan pelacak lokasi diunduh 1,7 juta kali pada Mei. Di Inggris, angkanya mencapai 300.000 unduhan.
Game seperti Pokémon GO punya alasan sah mengetahui koordinat GPS pengguna. Namun Proton menegaskan game puzzle atau mewarnai sederhana sama sekali tidak membutuhkannya.
"Informasi lokasi layak mendapat perhatian khusus, karena data lokasi bukan sekadar data. Itu catatan hidup Anda," demikian peringatan dalam laporan Proton.
Laporan itu menambahkan bahwa data lokasi bisa menunjukkan tempat kerja, tempat tidur, kehadiran di demonstrasi, kunjungan ke klinik medis, hingga pertemuan dengan orang yang ingin dirahasiakan.
Ketika data dikirim ke perusahaan ad-tech di negara seperti Rusia atau China, pemerintah yang berpotensi bermusuhan bisa mengakses informasi pribadi jutaan orang. Bahkan jika data mengalir ke firma iklan sah, kebocoran tetap mungkin terjadi.
Proton menyoroti insiden kebocoran data pada November 2025 di Mixpanel, platform analitik produk yang dipakai game seperti Roblox. Peretas berhasil mencuri metadata yang bisa mengidentifikasi pengguna.
Cara Melindungi Diri
Mengirim data pribadi ke jaringan broker data adalah model bisnis dasar ekosistem free-to-play. Proton menyatakannya blak-blakan: jika Anda tidak membayar produk, Anda adalah produknya.
Untuk tetap bermain tanpa menyerahkan koordinat GPS ke Moskow atau Beijing, pelacakan perlu diblokir sejak sumbernya. Pakar merekomendasikan layanan VPN dengan pemblokir iklan dan pelacak bawaan.
Fitur seperti NetShield di Proton VPN menyaring permintaan DNS. Saat aplikasi mencoba memuat pelacak yang dikenal, permintaan itu dimatikan sebelum data meninggalkan perangkat.
Alternatif paling sederhana adalah membeli game secara langsung. Dengan membayar di muka, pengguna biasanya mendapat pengalaman tanpa pelacak dan tanpa iklan.
Bagi pengguna di Indonesia, temuan ini relevan mengingat banyak game dalam daftar tersebut juga populer di pasar lokal. Kominfo melalui regulasi perlindungan data pribadi sebenarnya mewajibkan persetujuan eksplisit sebelum data dikumpulkan, tetapi pengawasan praktik pelacak lintas negara masih jadi tantangan tersendiri.