Jakarta — Badan Geologi Kementerian ESDM memaparkan perkembangan fenomena lubang besar yang terjadi di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Lubang tersebut dilaporkan terus membesar dan berpotensi mengancam permukiman warga di sekitarnya. Meski sekilas menyerupai sinkhole, Badan Geologi menilai kejadian ini memiliki karakteristik tersendiri.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa sinkhole umumnya berkaitan dengan kawasan batuan gamping atau karst. Namun, kasus di Aceh Tengah menunjukkan bahwa batuan vulkanik juga dapat mengalami kejadian serupa, meskipun melalui proses yang berbeda. Kondisi ini menjadi bukti bahwa material vulkanik tertentu memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap amblesan tanah.

Menurut Badan Geologi, pergerakan tanah di lokasi tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu dan hingga kini masih terus berkembang, terutama saat musim hujan. Faktor penyebabnya antara lain batuan dasar berupa tufa vulkanik yang bersifat lepas dan berpori, kemiringan lereng yang sangat curam, serta keberadaan saluran irigasi di bagian selatan lokasi yang berpotensi meluap atau meresapkan air ke dalam tanah saat hujan deras.

Kondisi lereng yang tidak stabil dan tingginya pengaruh air membuat material batuan menjadi semakin gembur. Selain itu, aliran air juga menyebabkan pengikisan tebing ke arah samping, sehingga lubang dan lembah di area tersebut terus melebar dari waktu ke waktu.

Sebagai bentuk mitigasi, Badan Geologi sebelumnya telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi pada 2021. Untuk jangka pendek, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terutama saat dan setelah hujan lebat, membangun sistem drainase kedap air yang diarahkan menjauhi lereng rawan longsor, serta menghindari aktivitas di sekitar bibir longsoran. Pemasangan rambu peringatan, pemantauan dan penutupan retakan tanah, larangan pembangunan permukiman di sekitar lokasi bencana, serta pelestarian vegetasi berakar kuat juga menjadi bagian dari langkah pencegahan. Selain itu, masyarakat diimbau aktif mengikuti sosialisasi kebencanaan dan arahan dari pemerintah daerah melalui BPBD.

Untuk jangka panjang, Badan Geologi merekomendasikan relokasi jalan yang saat ini berada dekat gawir longsor karena berisiko terputus akibat pergerakan tanah lanjutan. Pembangunan jalan baru pun diminta memperhatikan aspek geologi teknik dan hidrogeologi agar lebih aman dan berkelanjutan.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyatakan bahwa pemerintah daerah telah meminta tim teknis untuk melakukan kajian mendalam dan penanganan terhadap lubang besar yang sudah memutus badan jalan tersebut. Ia menegaskan kondisi di lapangan semakin memburuk karena pergeseran tanah terus terjadi dan berpotensi membelah area sekitar jika tidak segera diantisipasi.

Haili juga mengungkapkan bahwa longsor di lokasi itu sebenarnya sudah terjadi sejak 2013, namun intensitasnya meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ia berharap adanya keterlibatan tim teknis dari tingkat provinsi dan pusat bersama pemerintah kabupaten agar penanganan dapat dilakukan secara menyeluruh dan mencegah perluasan dampak ke wilayah lain, mengingat kondisi jalan yang kini sudah terputus dinilai sangat berisiko bagi masyarakat.

Reporter: Sutomo