Lubang Besar di Aceh Tengah Kian Meluas, Begini Penjelasan Badan Geologi
Aceh, 02 Februari 2026 – Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan fenomena lubang besar yang muncul di kawasan Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus mengalami pelebaran dan berpotensi mengancam permukiman warga di sekitarnya. Fenomena ini dinilai memiliki kemiripan dengan sinkhole, meski terjadi pada karakter batuan yang berbeda.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa kejadian lubang amblasan umumnya identik dengan wilayah batuan gamping atau karst. Namun, peristiwa di Aceh Tengah menunjukkan bahwa batuan vulkanik juga rentan mengalami fenomena serupa, meskipun dengan mekanisme yang tidak sepenuhnya sama.
“Fenomena sinkhole biasanya terjadi pada batuan gamping, tetapi kejadian di Pondok Balik membuktikan bahwa batuan vulkanik juga memiliki kerentanan, walaupun prosesnya sedikit berbeda,” ujar Lana, Minggu (1/2/2025).
Badan Geologi mencatat pergerakan tanah di lokasi tersebut telah berlangsung cukup lama. Kondisi batuan dasar, kemiringan lereng yang sangat curam, serta keberadaan aliran irigasi di sekitar lokasi turut memperbesar potensi perluasan lubang.
Berdasarkan keterangan warga, gerakan tanah sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan masih terus berkembang, terutama saat musim hujan. Batuan dasar di lokasi berupa tufa vulkanik yang bersifat lepas dan berpori, sehingga mudah terpengaruh oleh kejenuhan air. Selain itu, saluran irigasi di bagian selatan berpotensi meluap atau meresap ke dalam lereng ketika hujan lebat.
Kondisi tersebut menyebabkan lereng menjadi tidak stabil. Air yang meresap memperberat massa batuan, sementara erosi di bagian samping tebing oleh aliran air mempercepat terjadinya longsoran dan runtuhan batuan, sehingga lubang terus melebar.
“Selama aliran air bawah permukaan masih berlangsung dan tidak dapat dihentikan, potensi perluasan lubang tetap ada,” kata Lana.
Badan Geologi sebelumnya telah mengeluarkan rekomendasi penanganan gerakan tanah di wilayah Aceh pada 2021. Untuk jangka pendek, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan lebat, menghindari aktivitas di sekitar tebing rawan longsor, serta memperbaiki sistem drainase agar air tidak meresap ke lereng. Selain itu, pemasangan rambu peringatan, pemantauan retakan tanah, hingga larangan pembangunan permukiman di sekitar lokasi bencana juga menjadi bagian dari upaya mitigasi.
Sementara untuk jangka panjang, Badan Geologi merekomendasikan relokasi jalan yang berada dekat dengan mahkota longsor serta pembangunan jalur baru yang memperhatikan aspek geologi teknik dan hidrogeologi guna meminimalkan risiko bencana.
Sebelumnya, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta tim teknis melakukan kajian serta penanganan terhadap lubang besar yang telah memutus badan jalan tersebut. Ia menyebutkan pergerakan tanah di lokasi itu sudah terjadi sejak 2013, namun dalam beberapa bulan terakhir intensitas longsoran semakin meningkat.
“Jika tidak segera diantisipasi, pergeseran tanah dikhawatirkan akan semakin melebar dan membahayakan,” ujar Haili.